SELAMAT DATANG

Senin, 19 Maret 2012

Metode Pembelajaran Role Playing

            Role Playing (bermain peran) sebagai suatu model pembelajaran bertujuan untuk membantu siswa menemukan diri (jati diri) didunia sosial dan memecahkan dilema dengan bantuan kelompok” (Uno, 2009: 26). Hal ini berarti, melalui bermain peran siswa belajar menggunakan konsep peran, menyadari adanya peran-peran yang berbeda dan memikirkan perilaku dirinya dan perilaku orang lain. Uno juga mengungkapkan bahwa proses bermain peran ini dapat memberikan contoh kehidupan perilaku manusia yang berguna sebagai sarana bagi siswa untuk: (1) menggali perasaannya; (2) memperoleh inspirasi dan pemahaman yang berpengaruh terhadap sikap, nilai dan persepsinya; (3) mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah; (4) mendalami mata pelajaran dengan berbagai cara.
         Metode role playing mengajak siswa untuk menirukan permasalahan yang sesungguhnya, sehingga siswa mendapatkan wawasan tentang situasi permasalahan yang sebenarnya. Role playing dapat digunakan untuk menjelaskan sikap dan konsep, memperdalam pemahaman keadaan sosial dan mempersiapkan diri terhadap keadaan yang nyata.
      Role playing diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antar manusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan siswa.  Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterpretasikan suatu kejadian. Melalui metode role playing, siswa mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antar manusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para siswa dapat mengeksplorasikan perasaan, sikap, nilai dan berbagai strategi pemecahan masalah.
            Penggunaan metode bermain peran (role playing) bertujuan untuk membantu meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal bagi siswa dengan bermain peran secara sederhana. Dalam permainan peran, pemeran maupun tokoh disesuaikan dengan usia anak dan permasalahannya. Melalui metode role playing, siswa akan tertarik, senang dan bersemangat mengerjakan soal yang diberikan karena dapat menyerap konsep pembelajaran dengan mudah.
            Dalam metode role playing ini beberapa siswa memainkan peran atau tokoh seperti pada soal yang diberikan, kemudian siswa yang lain mengidentifikasi informasi yang diberikan dari soal tersebut seperti apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan. Setelah itu siswa mendiskusikan soal tersebut beserta penyelesaiannya, kemudian salah satu siswa menuliskan jawaban yang diperoleh di papan tulis dan dibahas bersama-sama. Dengan menggunakan metode bermain peran diharapkan kemampuan pemahaman dapat dimiliki siswa. Karena dengan metode bermain peran dapat mengarahkan siswa lebih merasakan secara langsung berproses nyata seperti dalam kehidupan sehari-hari misalnya banyaknya macam-macam kebutuhan  yang harus dipenuhi, banyaknya cara pemenuhan kebutuhan, banyaknya kegiatan ekonomi dan lain-lain. Dalam hal ini, guru berperan sebagai fasilitator.
            Dari berbagai definisi yang telah disampaikan dapat disimpulkan bahwa sasaran pengajaran yang cocok dengan metode role playing adalah sebagai berikut:
a)      Mempelajari informasi yang nyata.
b)      Menguasai konsep dan asas.
c)      Menerapkan informasi, konsep dan asas.
d)     Mengembangkan keterampilan dasar memecahkan masalah.
e)      Mengembangkan keterampilan psikomotorik.
Prosedur Pembelajaran Role Playing
            Role playing merupakan sebuah metode pengajaran dengan mengajak siswa untuk ikut dalam bermain peran. Setiap siswa mempunyai bagian tersendiri yang harus diperankan. Dengan pembagian peran ini maka diharapkan siswa dapat meresapi tiap karakter peran yang dimainkan. Siswa juga diharapkan dapat terbentuk pola pikir sesuai dengan peran yang didapat. Jadi ada semacam proses berpikir didalam diri siswa ketika siswa memainkan perannya.
            Ibrahim (2003: 47) memberikan contoh skenario dalam pembelajaran role playing:
a)      Guru memberikan suatu tema naskah cerita atau sandiwara.
b)      Siswa membaca dan memahami jalannya cerita.
c)      Guru mengadakan pembagian peran.
d)     Siswa berlatih dengan menggunakan teks.
e)      Siswa berlatih tanpa menggunakan teks.
f)       Guru memberikan beberapa petunjuk perbaikan.
            Keberhasilan model pembelajaran melalui bermain peran tergantung pada kualitas permainan peran (enactment) yang diikuti dengan analisis terhadapnya. Di samping itu, tergantung pula pada persepsi siswa tentang peran yang dimainkan terhadap situasi yang nyata (real life situation). Uno (2009: 26) menyebutkan prosedur bermain peran terdiri atas sembilan langkah, yaitu (1) pemanasan (warming up), (2) memilih partisipan, (3) menyiapkan pengamat (observer), (4) menata panggung, (5) memainkan peran (manggung), (6) diskusi dan evaluasi, (7) memainkan peran ulang (manggung ulang), (8) diskusi dan evaluasi kedua, (9) berbagai pengalaman dan kesimpulan.
            Roestiyah (1985: 91-92) mengemukakan, agar metode role playing dapat berhasil dengan efektif, perlu dipertimbangkan langkah-langkah berikut ini:
a)      Guru harus menerangkan kepada siswa mengenai teknik role playing ini. Bahwa dengan metode role playing siswa diharapkan dapat memecahkan masalah hubungan sosial yang aktual yang ada di masyarakat.
b)      Guru harus memilih masalah yang urgen, sehingga menarik minat siswa.
c)      Agar siswa memahami peristiwanya, maka guru harus bisa menceritakan sambil mengatur adegan yang pertama.
d)     Bila ada kesediaan sukarela dari siswa untuk berperan, harap ditanggapi tetapi guru harus mempertimbangkan apakah ia tepat untuk perannya itu. Jika tidak ada sukarela maka ditunjuk saja siswa yang memiliki kemampuan dan pengetahuan serta pengalaman seperti yang diperankan itu.
e)      Jelaskan pada pemeran-pemeran itu dengan sebaik-baiknya, sehingga mereka tahu tugas peranannya dan menguasai masalahnya.
f)       Siswa yang tidak ikut dalam pemeranan harus menjadi penonton yang aktif. Disamping mendengar dan melihat, mereka juga harus dapat memberikan saran dan kritik pada apa yang dilakukan setelan pemeranan selesai.
g)      Bila siswa belum terbiasa, maka perlu dibantu oleh guru dalam kalimat pertama saat dialog.
h)      Setelah role playing dalam situasi klimaks, maka harus dihentikan sejenak agar kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dapat didiskusikan secara umum.
i)        Sebagai tindak lanjut dari hasil diskusi, walaupun mungkin masalahnya belum dapat terpecahkan, maka perlu dibuka tanya jawab atau diskusi.
Dari beberapa uraian yang telah disampaikan diatas, dapat kita ketahui bahwa untuk melaksanakan metode role playing harus memenuhi berbagai syarat agar pembelajaran dapat berhasil dengan baik dan tepat sasaran. Beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu penetapan alur skenario yang tepat dan pemeran yang tepat. Guru harus mampu membimbing siswa untuk memainkan peran dan memberikan penjelasan mengenai makna yang terkandung dalam pemeranan tersebut.

Daftar Pustaka:
Ibrahim. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Murtadlo, Muhamad Nukha.2012.Peanerapan Metode Role Playing pada Standar Kompetensi Memahami Kegiatan Pelaku Ekonomi di Masyarakat Mata Pelajaran IPS Ekonomi Sebagai Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa SMP 4 Kudus.Skripsi. Semarang: Unnes.
Uno, Hamzah B. 2009. Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara


1 komentar:

  1. Hai Dhi..........thank's ya.....ada namaku disitu. Inilah bukti nyata dari manfaat theorities dari sebuah penulisan skripsi, dapat digunakan untuk memperluas pemahaman bagi siapapun yang membacanya. Dan yang aku salut dari kamu, alur mu dah bener kayak mbak daning yaitu menuliskan daftar pustaka atas apa dan siapa yang dijadikan sebagai landasan teorinya.
    Over all aku ngeliat isi blog mu keren. Terutama yang tentang metode2 gitu....aku suka. Aku tetarik sama tadi apa itu tongkat ajaib (ealah salah....tongkat mengajar. Eh gak tau d apaan tadi, tongkat berbicara ya. Yang penting bukan tongkat madura, gubrak!!!!)
    Next time i will follow u.....(koneksi htspot area lagi naek turun nih Dhi. Maklum......dah kagak boleh make wifi kampus, dah expaired. Hehe tau aja ni kampus).
    See u next time Dhi.....Keep writing!!!!!

    BalasHapus